Selasa, 12 Mei 2015

NOSTALGIA DI BAWAH LANGIT JOGJA





Aku dan salah satu sahabatku, Risa, berencana untuk berlibur setelah kami pulang dari pelatihan kerja. Penat, capek. Butuh refreshing otak. Sibuk iya, kaya kagak. Hehehe.. Mumpung ada waktu, kami backpackeran biar hemat.  Pilihan kami waktu itu adalah Yogyakarta. Kami ingin kembali ke kota tempat kami kuliah dulu. Dari Jakarta kami menuju Yogyakarta dengan kereta api. Dari stasiun Gambir di Jakarta menuju stasiun tugu Yogyakarta.
Sebagaimana ala backpacker, tentunya kami memberitahu teman-teman yang tinggal di Jogja agar kami bisa mendapatkan teman bermain selama di Jogja, sekalian jadi guide, tempat menginap gratis, sekaligus reuni. Teman-teman Risa semua pada sibuk, aku menghubungi temanku, hampir semuanya gak bisa janji bisa nemenin. Aku agak ragu untuk menghubungi salah satu sahabatku, Wina.

****
Namanya Wina. Dulu kami berteman sangat akrab.  Gimana nggak, kami teman satu kos, satu kelas, dan satu organisasi. Kemana-mana sering bareng. Untungnya kami masih wanita normal, masih suka sama pria. Sampai akhirnya kami bertengkar, hingga kami tidak berkomunikasi satu sama lain untuk waktu yang cukup lama, kira-kira 2 tahun.
 Apalagi yang bisa membuat dua orang sahabat bertengkar selain karena Pacar? Ah, bukan. Lebih tepatnya karena selisih paham antara aku dan Wina tentang pacarnya. Sudah kukatakan berulang kali agar dia tidak usah dekat dengan pria itu. Pria hidung belang macam itu tidak sepadan untuk mendapatkan sahabatku Wina. Wina sangat baik, cerdas, dan cantik. Tapi untuk masalah cinta, dia masih sangat lugu. Mungkin karena saking lugunya, makanya dia mudah tergoda oleh rayuan Zico, pria hidung belang yang hobinya gonta-ganti pasangan. Awalnya aku menolak Zico, karena sepengetahuanku, Zico terkenal sebagai seorang playboy kelas kakap. Jangankan dari fakultas lain atau dari universitas lain, dari jurusan kami sendiri, sudah banyak yang jadi korban Zico. Baik jadi mantan pacar maupun hanya TTM-an.  Tetapi Wina berpandangan berbeda denganku. Wina berpendapat Zico merupakan sosok pria yang tampan,  baik,  dan menurut Wina, Zico sering sekali memberikannya nasihat-nasihat yang sangat mujarab kalau dia sedang dalam kesulitan. Dengan keyakinan bisa mengubah Zico, Wina menerima Zico menjadi pacarnya.
Selang 4 bulan berpacaran saja, malam itu aku memergoki Zico bermesraan dengan wanita lain di sebuah warung di Bukit Bintang. Aku menegurnya agar jangan macam-macam dengan sahabatku Wina. Tapi aku tidak memberitahu Wina hal ini, karena aku takut membuatnya kecewa dan patah hati.
Malam itu juga tiba-tiba saja ada BBM masuk dari Wina.
“Ci, Zico sama Indah tuh cuma temanan doang kok. Gak ada apa-apanya. Tadi Zico cerita ketemu kamu. Tapi kamunya salah paham. Makanya aku mau ngelurusin. Mereka cuma makan malam karena udah kelaparan abis ngerjain tugas tadi.”
Aku bingung darimana Wina tau Zico dan Indah makan bareng tadi. Cuma temenan? Temenan kok sampe pegang-pegangan tangan, peluk-pelukan, sambil ciuman gitu! Cuma makan malam abis kerja kelompok? Masak makan sampe ke Bukit Bintang gitu! Zico pasti sudah merekayasa ceritanya deh. Takut ketahuan sifat aslinya.
Aku ceritakan pertemuanku dengan Zico dan apa yang sebenarnya terjadi. Sayang sekali, bukannya didengarkan, Wina justru memarahiku. Tidak habis pikir, entah apa yang membuatnya justru galau di status BBMnya. Ia membuat status yang berubah-ubah dalam sehari itu. Intinya ya galau dan menyindirku. Yang membuatku lebih marah lagi, 2 hari setelah kejadian itu, dia malah menghapusku dari kontaknya. Aku tersinggung dan kesal. Entah apa yang sebenarnya dikatakan Zico pada Wina. Mulai saat itu, kami tidak pernah bertegur sapa ataupun berkomunikasi .
Aku dengar 3 bulan dari situ, Wina dan Zico putus. Tapi yang lebih membuatku marah lagi... Ah, sudahlah. Tak layak kuceritakan disini. Tapi tetap saja kami tidak seakrab dulu lagi. Setelah kami wisuda dan aku kembali ke kota kami masing-masing, Wina pernah meng-invite BBM ku lagi. Aku terima. Tapi tidak ada kata “Haiiii.. Lama gak jumpa!” kayak di film-film atau iklan TV. Kami hanya ngobrol kalau lagi hari raya saja, saling mengucapkan ucapan selamat Hari Raya.

****

Saat itu aku memberanikan diri untuk  BBM Wina untuk mengajaknya keluar bersama kami  karena bermain dan jalan-jalan sendiri atau berdua saja itu agak kurang heboh. Wina meng’iya’kan ajakan kami. Kami janjian untuk bertemu di salah satu cafe di dekat alun-alun kidul pagi  itu.
Aku begitu deg-deg an. Gimana gak, aku berpikir akan berasa canggung untuk mengobrol dengan orang yang sudah lama kita gak ketemu. Apalagi karena bertengkar. Takutnya, Wina ngecap kami yang jelek lagi. Giliran butuh, baru nghubungi dia. Rasanya pengen banget batalin janji ketemu waktu itu, tapi kata Risa, bakalan gak enak kalau gak rame.
Kami bertemu Wina . Tidak ada yang berbeda dari Wina selain dia sekarang berhijab, dia masih cantik dan baik seperti dulu. Tidak kusangka Wina sangat ramah dan bersikap hangat kepada kami. Bahkan dia memelukku seperti tidak pernah ada pertengkaran di antara kami. Bahkan dia membawakanku Chiffon Cake buatannya sendiri. Akhir-akhir ini Wina membuka order Chiffon Cake sebagai gaji tambahan. Bahkan Wina ternyata membolos dari jadwal kuliahnya. Wina kuliah S1 lagi mengambil jurusan yang berbeda. Aku terharu dengan apa yang dilakukan Wina terhadap kami.
Kami langsung pergi dengan motor sewaan kami menuju Pantai Baron. Kurang lengkap rasanya kalau tidak pergi ke pantai.  Kami bermain di riak ombak tepi pantai, berfoto bersama, lalu makan ikan bakar di warung makan yang banyak berjejer disitu. Kami bercerita panjang lebar tentang masa lalu kami, tanpa menyinggung bagian pertengkaran kami. Aku bersyukur Wina tidak berpikir buruk tentang kami. Seperti tidak pernah ada jarak di antara kami, sebagaimana kami dulu. Sekembalinya dari pantai, kami melanjutkan malam  dengan bermain odong-odong yang berkelap-kelip di sekitaran alun-alun kidul, melihat pameran burung-burung, dan bermain melintasi beringin kembar. Lelah bermain, kami beristirahat sambil makan-makan di lesehan yang ada di lapangan alun-alun kidul. Kami memesan mie godhog dan wedang untuk menutupi kelaparan kami setelah capek bermain.
Sambil menyantap makanan kami, kami bercerita panjang lebar tentang kehidupan kami sekarang.  Lalu tiba-tiba saja Wina berkata, “Kau tau, Ci, aku pikir kau benar. Aku sungguh benar-benar menyesal saat itu. Setelah tau siapa Zico sebenarnya.” Aku yang sedang khusyuk menyeruput mie godhog dari piringku pun terkejut. Aku menatapnya iba. Tiba-tiba saja air matanya jatuh. Aku dan Risa hanya bisa saling bertukar pandang kaget. Wina bercerita bagaimana hancurnya dia setelah kejadian itu. Dia benar-benar merasa kesepian. Seolah tidak ada lagi yang mau mendengarkannya, menemaninya. Seolah-olah hanya dirinya yang menjadi manusia paling berdosa di dunia ini. Bahkan terkadang ia merasa ingin sekali bunuh diri saat itu, namun selalu gagal.
“Sudahlah, Win. Pada akhirnya kau sudah tau kan. Aku tidak bisa berkata banyak. Bukankah semuanya adalah keputusanmu? Jalani saja. Sulit memang, tapi percayalah, kau mampu menjalaninya.” Aku menatapnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi karena aku tahu, mungkin saat ini kata-kata hanya akan terdengar basi di telinganya. Kasihan Wina, pikirku.
Angin malam bertiup menerpa wajah kami. Dan kulihat dia sudah menghapus air matanya, menegakkan wajahnya, dan memandang kami lalu tersenyum. Dua orang pengamen menghampiri kami, mendendangkan lagu Yogyakarta miliknya Katon Bagaskara.

"Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama suasana Jogja

...... "

 

****
Kami menyelesaikan perjalanan kami di Jogja malam itu. Wina bahkan mengantar kami ke stasiun Tugu. Aku dan Risa berpamitan dengan Wina.  Ia memelukku sambil menangis. Sejenak kuingat masa-masa kami kuliah dulu. Seakan terbawa ke masa lalu, aku pun ikut menangis. Aku merasakan beban berat yang dirasakan Wina. Di umur yang masih muda, dia harus menanggung seberat itu.
“Kami pulang dulu ya Win. Jaga dirimu dan anakmu baik-baik. Semangat ya Wina sayang. Kalau kamu mau cerita, telepon atau hubungi aku ya. Tenang saja. Aku masih sahabatmu, sahabatku. “ Aku tersenyum. Aku harap setidaknya itu bisa sedikit menenangkannya. Terkadang kita tidak bisa memberi materi, tapi menjadi pendengar yang baik dan bahu bagi setiap orang yang ingin menangis itu sudah lebih dari cukup. Sebelum pulang, aku menasihatinya  sembari berbisik dan memeluknya,“Win, ingat. Tidak semua perkataan manis itu baik, dan tidak semua yang pahit itu racun, melainkan juga obat. Sahabat yang baik tidak hanya mendukung sahabatnya, tetapi juga menegur sahabatnya jika salah.” 

-end.


Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .

4 komentar: